VIDEO CONFERENCE FORUM NASIONAL STUNTING

Selasa, (14/12/2021) Pemerintah Kabupaten Tulungagung mengikuti pelaksanaan Forum Nasional Stunting melalui video conference di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso mulai pukul 08.30 WIB, yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bekerja sama dengan Tanoto Foundation.

Rapat tersebut diberikan kepada para  Kepala Daerah Gubernur, Bupati dan Walikota seluruh Indonesia terkait Penanganan masalah Stunting secara nasional.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden RI KH. Ma’ruf Amin juga diikuti Bupati Tulungagung Drs. Maryoto Birowo, MM, Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Tulungagung Dra. Imro’atul Mufidah, M.Si, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tungagung dr. Kasil Rohmad, MM.Ners, Kepala Bappeda Kabupaten Tulungagung Drs. Maryani, MM, dan Kepala Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tulungagung Drs. Suparni, MM

Masalah stunting masih menjadi perhatian pemerintah karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia (SDM). Saat ini, status Indonesia masih berada di urutan 4 dunia dan urutan ke-2 di Asia Tenggara terkait kasus balita stunting.

Wakil Presiden RI KH. Ma’ruf Amin dalam sambutannya menyampaikan, bahwa diharapkan melalui Forum Nasional Stunting 2021 terbangun komitmen dari seluruh pemangku kepentingan sehingga dapat terbentuk input dan rekomendasi bagi rencana aksi nasional percepatan penurunan stunting.

Wapres RI KH. Ma’ruf Amin juga menjelaskan, hingga tahun 2021, seluruh Bupati dan Wali Kota dari 514 kabupaten/kota telah menandatangani komitmen bersama untuk melakukan percepatan penurunan stunting di daerah. Komitmen ini harus tetap dijaga dan betul-betul dibuktikan pelaksanaannya di daerah.

Kolaborasi kerja berbagai pihak menjadi kunci memastikan konvergensi antar program hingga ke tingkat desa/kelurahan untuk menurunkan stunting. Upaya ini tidak bisa hanya dilakukan oleh satu lembaga saja, atau hanya dari unsur pemerintah pusat saja.

Sementara itu, Kepala BKKBN, Dr. (HC), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) dalam penjelasannya menyampaikan, BKKBN berkomitmen untuk mencapai target 14 persen angka stunting di tahun 2024, yang saat ini berada di angka 27,7 persen.

Kepala BKKBN juga menambahkan, bahwa sudah membuat terobosan atau inovasi untuk penurunan stunting yaitu dengan membentuk Tim Pendamping Keluarga (TPK), dimana tim pendamping keluarga itu ada 3 unsur yaitu dari Kesehatan atau Bidan, Tim Penggerak PKK dan Kader-kader yang ada di daerah.

Menurut Kepala BKKBN, banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa dirinya hamil, sehingga ketika datang ke dokter ternyata sudah hamil 3 bulan. Padahal masa kritis adalah saat janin usia sebelum 56 hari atau sekitar 8 minggu, karena pada masa inilah sukses tidaknya organ janin tumbuh sehingga bakat bibir sumbing, cacat atau stunting bisa mulai terlihat pada masa ini.

Selain itu, Kepala BKKBN telah meluncurkan program Mahasiswa Peduli Stunting atau disebut Mahasiswa Penting. Program ini merupakan bentuk pendampingan kepada keluarga berisiko stunting.

Anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation, Belinda Tanoto mengajak berbagai pihak untuk memberi perhatian lebih dan mengambil aksi nyata melawan stunting.

Sejauh ini Tanoto Foundation telah bekerja sama dengan World Bank dalam mendukung implementasi program Investing in Nutrition and Early Years (INEY), dengan Kementerian Sosial RI dalam peningkatan kapasitas Pendamping PKH untuk menyampaikan modul pencegahan dan penanganan stunting kepada 10 juta Keluarga Penerima Manfaat.