Yenni Mandaricha

Yenni Mandaricha

Gedung PLUT K-UMKM Tulungagung baru saja diresmikan hari jumat 9 Desember 2016 oleh Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga. Dan, banyak  masyarakat Tulungagung yang belum tahu fungsi kegunaan gedung tersebut. Termasuk, keberadaan 5 konsultan pendamping yang akan menempati gedung yang berada di pasar Legi Ngantru Tulungagung itu.

SATU AKSI, MENGHIDUPKAN BANYAK MIMPI

Dalam kehidupan kita sehari hari, kita merahasiakan sesuatu dari orang lain. Kita menahan sesuatu. Kadang kita mengalami masa masa sulit untuk membukanya, berusaha mengetahui orang lain, atau mengizinkan mereka mengetahui kita. Hanya dengan aksi atau tindakan yang nyata, maka suatu maksud atau kehendak untuk mencapai satu hasil, dapat di komunikasikan. Dan tindakan nyata atau aksi itu janganlah di tunda tunda lagi. Tak perlu menunggu nunggu memiliki sesuatu, walaupun untuk sebuah aksi kita memang tak terlepas dengan sarana dan prasarana.

Ladang basah untuk berbisnis ada dimana mana, membentuk kelas kelasnya dan memiliki habitat serta komunitasnya sendiri sendiri. Memang, era pasar bebas telah dimulai. Di dukung dengan laju perkembangan teknologi yang canggih seperti menjadikan tumpangan paling strategis untuk membawa produk produk tersebut keluar dari kandang dan melesat menuju pasar.

Berdikari adalah berdiri di kaki sendiri, dalam artian berusaha sendiri tidak meminta minta bantuan dari siapa siapa. “Tapi kalau Bapak Bupati mau memberi ya kita terima, kalau tidak memberi ya kita tidak mengharapkan, sebab tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah” begitu seloroh Ketua Dekopinda Tulungagung dengan nada menggelitik saat memberikan sambutan dalam pembukaan Pameran stand Koperasi dan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) kemarin hari Selasa 11 Oktober 2016.

Mendengar namanya saja sudah terlintas di benak kita untuk bersegera mencicipi rasanya seperti apa? namun kalau pepes tentu sudah banyak yang tahu. Pepes adalah salah satu menu kuliner yang cara pengolahannya melalui pengukusan yang disertai beberapa bumbu dan dibungkus dengan daun pisang. Di Indonesia dikenal berbagai macam pepes mulai pepes ikan patin, pepes teri, pepes bandeng, pepes ayam dan pepes mie.

Hal yang umum dan paling utama menjadi permasalahan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah adalah permodalan. Bagaimana ia bisa memulai dan mengembangkan usahanya jika tidak memiliki cukup modal? Pemerintah menangkap titik permasalahan para pengusaha mikro ini, tentunya dengan berbagai program yang di jalankan. Termasuk salah satunya adalah membantu masyarakat dalam hal pengurusan sertipikat tanah.

Ternyata keterampilan masak memasak yang telah kita dapat sejak masih di bangku sekolah dasar dulu sangat bermanfaat kelak kemudian hari. Bahkan untuk bisa membuat sebuah menu makanan yang istimewa itu ada jenjang pendidikan tertentu yang harus di tebus dengan biaya mahal. Itu artinya, bisnis kuliner memang ladang basah dan akan terus menempati posisi terhormat dalam pasar perekonomian.

Di Indonesia saat ini sektor UMKM mampu menampung 90% dari total angkatan kerja. Jika UMKM ini dapat mengembangkan volume dan luasan usahanya, maka diperkirakan angkatan kerja yang dapat ditampung lebih banyak. Faktanya, sebagian besar UMKM ini tidak berkembang baik dari segi volume maupun perluasan usaha. Ini disebabkan bukan hanya masalah pasar teknologi dan permodalan yang selama ini diyakini banyak pihak, melainkan justru pada pola pikir, sikap dan pola kebiasaan perilaku para pelaku UMKM. Salah satu solusi untuk meningkatkan dan menumbuhkan kapasitas UMKM, diperlukan pendidikan entrepenership, yaitu pendampingan dan pembimbingan usaha.