SATU AKSI, MENGHIDUPKAN BANYAK MIMPI

Dalam kehidupan kita sehari hari, kita merahasiakan sesuatu dari orang lain. Kita menahan sesuatu. Kadang kita mengalami masa masa sulit untuk membukanya, berusaha mengetahui orang lain, atau mengizinkan mereka mengetahui kita. Hanya dengan aksi atau tindakan yang nyata, maka suatu maksud atau kehendak untuk mencapai satu hasil, dapat di komunikasikan. Dan tindakan nyata atau aksi itu janganlah di tunda tunda lagi. Tak perlu menunggu nunggu memiliki sesuatu, walaupun untuk sebuah aksi kita memang tak terlepas dengan sarana dan prasarana.

Saat itu di suatu pagi yang cerah 19 November 2016 bertepatan dengan Hari Anak Universal, di sebuah lokasi yang mungkin bisa di katakan itu mirip perbukitan, atau lebih tepatnya kaki bukit, sebab tempatnya memang dataran tinggi. Suatu kawasan di ujung selatan Kota Tulungagung, desa itu bernama Sebalor Kecamatan Bandung Tulungagung. Kurang lebih 20 kilometer dari pusat kota. Kami memang warga asli Tulungagung Jawa Timur, namun alangkah tertinggalnya kami ini dengan informasi, sebab sebuah tempat yang sangat indah, perbukitan nan hijau, jalan yang menanjak, bahkan wisata air terjun yang dahsyat, ternyata ada di kota ini. Dan terlebih takjub lagi, ketika kami sampai di tempat tujuan, yakni Sebuah tempat belajar mengajar yang terpencil di kaki bukit, di tengah hutan. 

Kami berjumlah kurang lebih dua puluh orang, dengan latar belakang pendidikan perguruan tinggi yang berbeda, dari karakter yang berbeda, bahkan mimpi yang berbeda. Namun, hari itu kami telah membawa misi yang sama, yakni SATU AKSI. Untuk 36 adik adik kami di Sekolah Dasar Negeri 2 Sebalor ,yang mengisi kelasi 1 hingga kelas 6. Sedikit memang dalam hitungan jari. Namun, jangan salah, sebab mereka memiliki mimpi yang besar, unik, dan realistis, jujur dalam mengemukakan isi kepala, karena seusia mereka mudah di terka apabila menyembunyikan sesuatu.

Setelah sesi perkenalan kami dengan penghuni sekolah dasar itu, maka jam berikutnya di isi dengan mengenal lebih dekat pribadi dan karakter mereka. Adik adik kami ajak untuk bermain dan belajar. Dengan menuliskan nama serta cita cita mereka kelak di mahkota yang kami buat dari kertas. Salah satu dari siswa kelas satu yang bernama Hendi, menuliskan cita citanya. Coba terka, ingin menjadi apakah dia? Ketika teman temannya yang lain menuliskan cita citanya menjadi guru, polisi, TNI, pembalap, dan dokter. Saya terhenyak sesaat ketika membaca apa yang ia tuliskan di mahkota kertas yang berada diatas kepalanya. Ia menuliskan cita citanya kelak ingin menjadi “RAJA HUTAN”.  

Tentu kita mengiranya ia salah tulis, atau salah dalam menyampaikan apa yang ia fikirkan. Mungkin, ia ingin menjadi Tarzan ? atau menjadi yang terkuat di hutan itu? Raja, ia menulis di kalimat pertamanya adalah Raja, ia ingin menjadi seorang pemimpin, kawan. Tak perlu kita menghapus tulisan di mahkotanya itu lantaran terlalu ekstrim atau aneh. Jangan, itulah kejujurannya, itulah keluguannya, dengan alaminya ia mengkomunikasikan mimpinya untuk menjadi seorang pemimpin. Bisa jadi, Pemimpin negeri ini. Dan itu adalah sebuah mimpi, ia kelak pasti memenuhi apa yang ia tulis itu , dengan perjuangannya. Aksi kami hari itu semakin komplit dengan kehadiran pengisi materi pertama adalah seorang Mahasiswi yang kemudian menceritakan pengalamannya ketika mengkuti salah satu kompetisi essai di Jerman, dia adalah Dessy. Tentunya cerita cerita dan motivasi yang ia tularkan pagi itu akan mampu memberikan semacam inspirasi dan memperkaya mimpi anak anak gunung itu.

Pemateri berikutnya adalah dua orang relawan pengajar asing. Mereka adalah Mrs Sushma dan suaminya Veneet dari Organisasi Peace Corp yang berpusat di Washington DC. Mereka memberikan sesi belajar berbahasa inggris dengan metode outbond dan gaming. Adik adik terlihat sangat antusias, disamping memang relawan pengajar dari Amerika itu sangat dekat bersahabat sehingga materi yang disampaikan pun dengan cepat dan mudah diterima oleh anak anak gunung itu. Adik adik kami itu tangkas, bersahaja dan ceria, mungkin karena mereka di tempa dan dibesarkan dari angin perbukitan yang sejuk sehingga hari hari mereka dalam menyongsong masa depannya juga senantiasa sejuk. Kami hampir tak menangkap tatapan mata putus asa, minder atau malu malu, Justru jauh dari apa yang semula kami kesankan itu. Mereka sangat dinamis, lepas dalam senyum dan canda. Dan tidaklah sia sia amanah yang kami bawa dari jantung kota, beberapa donatur dan pendukung aksi kami ini telah mempercayakan sepenuhnya beberapa sarana prasarana untuk diberikan kepada mereka.

Hari mulai sore, kami segera berkemas untuk selanjutnya meninggalkan Sekolah Dasar Negeri 2 Sebalor. Satu aksi dalam kreasi untuk menghidupkan banyak mimpi telah berusaha kami lakukan hari itu. Karena Kreativitas merupakan ciri universal manusia, sejak dilahirkan. Itu adalah sifat alami, sama dengan sifat biji yang menumbuhkan daun, burung yang terbang, maka manusia kreatif. Kreativitas adalah potensi semua orang, yang tidak memerlukan bakat dan kemampuan yang khusus. Begitu juga dengan mimpi, tentu semua manusia memiliki mimpi. Kami perlahan menuruni daerah perbukitan itu, jalan naik turun dengan di hiasi pohon pohon menjulang di kanan kiri. Setibanya di bawah kami melihat dari kejauhan, nun jauh di atas sana kami telah menancapkan nama IYOIN Dalam aksi peduli Tulungagung. 

IYOIN (Indonesian Youth Opportunities in International Networking) merupakan sebuah NGO yang dibentuk oleh beberapa pemuda-pemudi Indonesia yang bertujuan untuk menjadi tempat berkumpulnya pemuda-pemudi Indonesia. Menjadi media untuk berbagi dan bersinergi demi cita-cita pemuda-pemudi Indonesia dan Negara Indonesia melalui program-program yang berbasis pada pendidikan, kepemudaan, sosial, dan jaringan internasional.

Semoga ia senantiasa berkibaran, di hembus angin perjuangan untuk mimpi mimpi kami dalam aksi berikutnya. (Liputan Humas Relawan IYOIN LC Tulungagung, Yenni Mandaricha)

 

 

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
  • No comments found